John Barth: Yang Dipikirkan Pengarang Sebelum Menulis Novel
Aku bukan penulis semacam itu. Lebih sering aku memulai dengan sebuah bentuk atau wujud, bisa jadi sebuah gambar.
BY ADDI M IDHAM
Buku yang berbeda dimulai dengan cara-cara yang berbeda.[1] Aku terkadang berharap bahwa aku semacam penulis yang memulai dengan ketertarikan yang bergairah dengan sesosok karakter dan kemudian, sebagaimana kudengar penulis-penulis lain mengatakan, berikan saja karakter itu sedikit ruang dan lihat apa yang ingin dia lakukan. Aku bukan penulis semacam itu. Lebih sering aku memulai dengan sebuah bentuk atau wujud, bisa jadi sebuah gambar.
Perahu yang mengambang, sebagai contoh,
yang menjadi tokoh sentral dalam The
Floating Opera, merupakan photo dari sebuah kapal pertunjukkan sesungguhnya
yang aku ingat pernah melihatnya saat masih kecil. Namanya ternyata Captain Adams’ Original Unparalleled
Floating Opera, dan ketika alam, dengan cara yang tak menyenangkan,
menghadiahimu gambar itu, satu-satunya hal mulia yang harus dilakukan adalah
menulis sebuah novel tentangnya. Ini mungkin bukan pendekatan yang paling
mulia.
Aleksandr Solzhenitsyb, sebagai contoh, hadir
dalam media fiksi dengan sebuah tujuan moral yang tinggi; dia ingin, dunia
literatur, mencoba untuk mengubah dunia melalui media seperti novel. Aku
menghormati dan mengagumi maksud itu, tetapi seringnya seorang penulis besar
akan menuliskan novelnya dengan tujuan yang tidak lebih mulia dibandingkan
dengan upaya mengecilkan pemerintahan Soviet. Henry James ingin menulis sebuah
buku dalam bentuk sebuah jam pasir. Flaubert ingin menulis sebuah novel tentang
nothing. Apa yang kupelajari adalah
bahwa keputusan dari inspirasi-inspirasi untuk bernyanyi atau tidak bukan
didasarkan pada keluhuran dari tujuan moralmu-mereka akan menyanyi atau tidak,
apapun keadaannya.[2]
[1] Letter form the Editor: Majalah The Paris Review (2018) secara ekslusif menerbitkan The Writer’s Chapbook, sebuah jilid buku yang berisi intisari-intisari dari rentetan wawancara dengan pengarang-pengarang yang muncul di majalah tersebut sejak tahun 1953. Apa yang ditulis kemudian adalah diskusi-diskusi para pengarang tentang proses awal dari dunia kreatif dan menulis mereka, pengecambahan sebuah puisi, atau sebuah karya fiksi. “Inspirasi” menjadi garis besar dalam rangkuman dari intisari pemikiran para pengarang dunia tentang proses kreatif dan bagaimana mereka menulis pada mulanya.
[2] John
Simmons Barth adalah seorang penulis Amerika yang terkenal karena karya fiksi
postmodern dan metafiksi. Karya-karyanya yang paling dihargai dan
berpengaruh diterbitkan pada tahun 1960-an, dan termasuk The Sot-Weed Factor , sebuah
penulisan ulang sejarah kolonial Maryland yang jenaka
; Giles Goat-Boy , sebuah fantasi satir di
mana sebuah universitas adalah mikrokosmos dunia Perang
Dingin ; dan Lost in the Funhouse , sebuah
kumpulan cerita pendek yang merujuk diri sendiri dan eksperimental. Ia
menerima penghargaan National Book Award bersama-sama
pada tahun 1973 untuk novel episodiknya Chimera . | Via Wikipedia
Enim sed consequatur voluptas dolor eligendi id. Repellendus est non voluptatem ad aliquam vel ad. Est officiis maiores dolor quia recusandae.