John Barth: Yang Dipikirkan Pengarang Sebelum Menulis Novel
INSPIRASI
July 24, 2026

John Barth: Yang Dipikirkan Pengarang Sebelum Menulis Novel

Aku bukan penulis semacam itu. Lebih sering aku memulai dengan sebuah bentuk atau wujud, bisa jadi sebuah gambar.


Foto Penulis BY ADDI M IDHAM

Buku yang berbeda dimulai dengan cara-cara yang berbeda.[1] Aku terkadang berharap bahwa aku semacam penulis yang memulai dengan ketertarikan yang bergairah dengan sesosok karakter dan kemudian, sebagaimana kudengar penulis-penulis lain mengatakan, berikan saja karakter itu sedikit ruang dan lihat apa yang ingin dia lakukan. Aku bukan penulis semacam itu. Lebih sering aku memulai dengan sebuah bentuk atau wujud, bisa jadi sebuah gambar.

Perahu yang mengambang, sebagai contoh, yang menjadi tokoh sentral dalam The Floating Opera, merupakan photo dari sebuah kapal pertunjukkan sesungguhnya yang aku ingat pernah melihatnya saat masih kecil. Namanya ternyata Captain Adams’ Original Unparalleled Floating Opera, dan ketika alam, dengan cara yang tak menyenangkan, menghadiahimu gambar itu, satu-satunya hal mulia yang harus dilakukan adalah menulis sebuah novel tentangnya. Ini mungkin bukan pendekatan yang paling mulia.

 Aleksandr Solzhenitsyb, sebagai contoh, hadir dalam media fiksi dengan sebuah tujuan moral yang tinggi; dia ingin, dunia literatur, mencoba untuk mengubah dunia melalui media seperti novel. Aku menghormati dan mengagumi maksud itu, tetapi seringnya seorang penulis besar akan menuliskan novelnya dengan tujuan yang tidak lebih mulia dibandingkan dengan upaya mengecilkan pemerintahan Soviet. Henry James ingin menulis sebuah buku dalam bentuk sebuah jam pasir. Flaubert ingin menulis sebuah novel tentang nothing. Apa yang kupelajari adalah bahwa keputusan dari inspirasi-inspirasi untuk bernyanyi atau tidak bukan didasarkan pada keluhuran dari tujuan moralmu-mereka akan menyanyi atau tidak, apapun keadaannya.[2]

 



[1] Letter form the Editor: Majalah The Paris Review (2018) secara ekslusif menerbitkan The Writer’s Chapbook, sebuah jilid buku yang berisi intisari-intisari dari rentetan wawancara dengan pengarang-pengarang yang muncul di majalah tersebut sejak tahun 1953. Apa yang ditulis kemudian adalah diskusi-diskusi para pengarang tentang proses awal dari dunia kreatif dan menulis mereka, pengecambahan sebuah puisi, atau sebuah karya fiksi. “Inspirasi” menjadi garis besar dalam rangkuman dari intisari pemikiran para pengarang dunia tentang proses kreatif dan bagaimana mereka menulis pada mulanya.

[2] John Simmons Barth adalah seorang penulis Amerika yang terkenal karena karya fiksi postmodern dan metafiksi.  Karya-karyanya yang paling dihargai dan berpengaruh diterbitkan pada tahun 1960-an, dan termasuk The Sot-Weed Factor , sebuah penulisan ulang sejarah kolonial Maryland yang jenaka ; Giles Goat-Boy , sebuah fantasi satir di mana sebuah universitas adalah mikrokosmos dunia Perang Dingin ; dan Lost in the Funhouse , sebuah kumpulan cerita pendek yang merujuk diri sendiri dan eksperimental. Ia menerima penghargaan National Book Award bersama-sama pada tahun 1973 untuk novel episodiknya Chimera . | Via Wikipedia

Addi M Idham
ADDI M IDHAM

Enim sed consequatur voluptas dolor eligendi id. Repellendus est non voluptatem ad aliquam vel ad. Est officiis maiores dolor quia recusandae.