Puisi Ardhi Ridwansyah
Memo dari
Jakarta
Ranum cuaca
rindang menerpa,
aspal ibu kota
menyapa dengan deru kendara
teriak klakson
bersahutan ramai menebas,
ingatan saat
bersua hening rasa begitu kebas.
Telusur setiap
langkah meraba indra.
Dengan secangkir
wedang yang dibeli di Jatinegara,
Seruput hangat
belai kasih yang tertinggal di sana.
Kala stasiun jadi
tonggak awal perjumpaan kita.
Kerling mata,
sayup suara dan desir darah menyambut.
Di samping bising
kereta yang membuat kalut.
Elok terasa sedap
dipandang kala genggam jarimu ada di lengan,
Mewadahi rasa
dalam gejolak yang tak tertahan..
Jakarta
menyambutmu ketika itu,
Dengan
taman-taman yang tumbuh satu per satu,
Kita meracik
kasih di tengah suropati,
Langkah
mengiringi hati yang tak pasti.
Semerbak wedang
buatku memandang
Bahwa kasih
terpatri dalam rasaku yang meradang.
Kau jalan buntu
yang mesti kutinggalkan,
Bersama Jakarta
kuharap kau jadi ratapan.[1]
Jakarta, 16 April
2020
Induk Tiga
Belas Sungai
Kau renang dalam
sungai kehidupan
Arungi tawa dan
tangis berlumur lumpur,
Basuh luka dengan
derai air mata.
Mencucinya dalam
asa yang terbata-bata.
Ibu sebagai imduk
dari tiga belas sungai.
Yang memadu kasih
dalam jernih,
Namun tanpa
empati ia bersedih.
Kala sampah kian
buatnya pedih.
Alur air menjadi
sketsa hidup,
Gelebah datang
bersama sayup,
Dari suara
orang-orang berwajah kuyu.
Menghuni sudut
Jakarta dengan keluh.
Ingin rasa
mengaduh,
Genggam ambisi
dalam rasa yang gaduh.
Ketuk dengan
rintih khas pinggir kali.
Dan berharap ibu
mendengar lalu peduli.
Jakarta, 16 April 2020
Primadona
Setiap polah
terus jadi sorotan,
Kala demo bergema
kau menjelma primadona,
Saat pemilihan
penguasa kau pun gagah,
Hadir dalam tiap
warta yang buat terpangah.
Semua tertuju
padamu beserta semesta yang melata.
Kasih dan benci
dalam tiap pikir manusia,
Yang bergelayut
di bahumu,
Bersantai di
jemari kakimu.
Hiruk pikuk jadi
nama belakang,
Sementara sibuk
jadi panggilanmu.
Kumandang azan ia
meramu kopi,
Sembari lihat
bual politisi.
Singgah di kota
tua, tak urung menua
Di antara jilat
tugu monas yang dari kejauhan,
Tampak seperti es
krim yang menyala,
Gugah selera
ingin menikmatinya.
Hari ini Jakarta
bercerita,
Tentang sendu dan
rindu yang berkecamuk,
Dalam batin yang
penuh isak dan tawa.
Dari himpunan
manusia jemawa.
Jakarta, 16 April
2020
[1] Ardhi Ridwansyah
kelahiran Jakarta, 4 Juli 1998. Kini, sedang kuliah di UPN Jakarta. Jurusan
Komunikasi. Tulisan esainya dimuat di islami.co.
terminalmojok.co, tatkala.co, nyimpang.com,
dan kurungbuka.com. Puisinya “Memoar
dari Takisung” dimuat di buku antologi puisi “Banjarbaru’s Rainy Day Literary
Festival 2019”.