Puisi Nyoman Sukaya Sukawati
SENJA
JAKARTA
Hanya
bayangan gagak
di tiang
pancang di pusat kota
Atau
gerombolan emprit
menginvasi
pohon mati di alun-alun
Selebihnya
kota terperangkap dalam grafiti
Sudut-sudutnya
menciptakan labirin
dengan
coretan saling-silang
antara doa
atau gumam setengah mabuk
anak-anak
usiran
Tak
kautemukan jalan memutar di persimpangan
Semua jalan
selalu menuju ke gang buntu
yang
berakhir di sudut gelap jiwamu
Seorang ibu
yang rindu
masih
menunggu ketukan lembut di pintu
namun
sekali lagi hanya suara hiruk pikuk
menghantu
di balik pagar
Kaukira
hanya angin yang masih sudi berbagi keramahan
lewat
secangkir kopi atau sepotong roti di meja kafe
yang
aromanya mendekatkan ingatanmu
pada bunga
bokor di pekuburan tua
Di kejauhan
peluit kereta
putus asa
membangunkan orang-orang yang ketinggalan waktu
serta
sejumlah nama yang ditelantarkan nasib buruk
Lihatlah!
Matahari merahasiakan mukanya di jendela
Sepucat
lampu jalanan
menggiring
penari bertopeng
melewati hari
dengan nyeri dada
meratapi
mimpi masa lalunya yang usang
Lalu apa
yang dicatat kota kita kini
Bukan
kenangan yang menghubungkan kita
dengan
keriangan hidup hari ini
Bukan
tarian emprit di langit senja
mengubah
angan jadi hamparan bintang
yang
bertahun kaurindukan
Hanya
bayangan gagak kesepian
termangu di
puncak rangka tiang pancang
menunggui
seorang tua sebatang kara
yang
sekarat di bantaran kali [1]
2020
DI STASIUN KOTA TUA
aku menunggumu seperti menunggu
kereta di
stasiun. tapi kota ini seakan
menyembunyikanmu di belakang
gaung gedung-gedung itu.
kebisingan ini membuatku kehilangan
pendengaran
dan kerumunan menutupi
penglihatan.
aku seperti kursi tunggu di pojok peron
terasing di antara orang-orang yang silih berganti
mencampakkan dirinya di bahuku
sekelompok
pengamen menyanyi
dalam nada
yang selalu gagal
menyembunyikan
nasib buruknya
yang
mengharu biru seperti bunga-bunga mati
berjatuhan
dari cabang-cabangnya.
apa yang
kita kenang dari patung kuno di bundaran
adalah
gelombang mimpi yang datang dari masa silam
mimpi yang
terhenti di ujung jari telunjuknya
yang gagal
menjinakkan pergerakan cuaca.
kemana
perginya tukang nujum tua itu
yang
kartu-kartunya selalu luput
membaca
tanda-tanda zaman?
di belakang
meja seorang penulis monografi
menyaksikan
arah masa depan disesatkan
di
jalan-jalan kota ini. sementara orang-orang hilir-mudik
menyembunyikan
belati di pinggang
menunggu waktu menodongku dari punggung.
menunggumu di kota ini membuatku sepenuhnya asing
seolah-olah
sayap burung gereja tak memiliki mata
tersangkut
di lorong sebuah gedung. dan engkau bagai kereta tua
tertelan
oleh relnya sendiri, meninggalkan bayangan melengkung
membentuk
isyarat berat di bahuku yang beku
2020
BAYANGKAN
JAKARTA
Bayangkan
sebuah kota
Orang-orang
bergerak dari ujung ke ujung
Menghubungkan
setiap inci jalan dan lorong
Selalu
sangsi pada semua penanda: berapa tikungan lagi
untuk sampai
di akhir mimpi semalam?
Bayangkan
sebuah kota asing
Jalan-jalan
dijajah asap, pepohonan tumbuh
dari
erangan, dan senja terusir ke puncak tertinggi gedung
Sungai mati
berkeliaran sepanjang hari
menebarkan
benih mimpi buruknya sendiri
Bayangkan
kota ini menjelma pada etalase
Taman,
matahari, dan jalanan terperangkap di kotak kaca
Roh-roh
tertiup ke balik pakaian warna-warni
Menyapa
tanpa tubuh dan kepala
Bayangkan
kau berdiri di trotoar itu
Menyaksikan
mata-mata kesedihan dan kesepian
turun di
jalan-jalan. Langit dimakamkan di bawah kerumunan
Orang-orang
terus bergerak menggelombang
menghubungkan
tubuh-tubuh mereka
yang
menjadi batu
Bayangkan
para pejalan kaki serentak berhenti
di tempat
penyeberangan
Saling
tatap dengan kebisuan dan kekosongan
masing-masing.
Lalu di ujung waktu
kau temukan
dirimu tergeletak di atas ambulans
yang hilang
di lorong tak berujung
Lalu
bayangkan ini waktunya
bagi segala
kekalahan dan kemenanganmu
dirayakan
dengan karangan bunga
dan
diperingati dengan doa yang sama
Dan
bayangkan di batu nisan itu
namamu
diukir untuk menyatakan pada akhirnya
kita adalah
batu yang bernama
2019
[1] Nyoman Sukaya Sukawati, lahir 9
Februari 1961. Mulai aktif menulis puisi sejak 1980 di rubrik sastra surat
kabar Bali Post Minggu asuhan Umbu Landu Paranggi. Sajak-sajaknya dimuat pada
buku kumpulan puisi bersama, antara lain Saron (2018) dan Tutur Batur (2019).
Dia pernah bergiat di dunia jurnalistik sebagai wartawan di sejumlah surat kabar
dan televisi. Pada 2007 bukunya berjudul Mencari Surga di Bom Bali diterbitkan
melalui program Widya Pataka Badan Perpustakaan Daerah Provinsi Bali bekerja
sama dengan Arti Foundation, Denpasar.