Puisi Nyoman Sukaya Sukawati

Foto Penulis
GALERI BUKU JAKARTA, A NEWS WRITER FOR THE CUT WHO COVERS POP CULTURE AND CELEBRITY.
JUL. 24, 2026
Main Image
Photo-Illustration: Vulture; Photos: Publisher

SENJA JAKARTA

 

Hanya bayangan gagak

di tiang pancang di pusat kota

Atau gerombolan emprit

menginvasi pohon mati di alun-alun

 

Selebihnya kota terperangkap dalam grafiti

Sudut-sudutnya menciptakan labirin

dengan coretan saling-silang

antara doa atau gumam setengah mabuk

anak-anak usiran

 

Tak kautemukan jalan memutar di persimpangan

Semua jalan selalu menuju ke gang buntu

yang berakhir di sudut gelap jiwamu

 

Seorang ibu yang rindu

masih menunggu ketukan lembut di pintu

namun sekali lagi hanya suara hiruk pikuk

menghantu di balik pagar

 

Kaukira hanya angin yang masih sudi berbagi keramahan

lewat secangkir kopi atau sepotong roti di meja kafe

yang aromanya mendekatkan ingatanmu

pada bunga bokor di pekuburan tua

 

Di kejauhan peluit kereta

putus asa membangunkan orang-orang yang ketinggalan waktu

serta sejumlah nama yang ditelantarkan nasib buruk

 

Lihatlah! Matahari merahasiakan mukanya di jendela

Sepucat lampu jalanan

menggiring penari bertopeng

melewati hari dengan nyeri dada

meratapi mimpi masa lalunya yang usang

 

Lalu apa yang dicatat kota kita kini

Bukan kenangan yang menghubungkan kita

dengan keriangan hidup hari ini

Bukan tarian emprit di langit senja

mengubah angan jadi hamparan bintang

yang bertahun kaurindukan

 

Hanya bayangan gagak kesepian

termangu di puncak rangka tiang pancang

menunggui seorang tua sebatang kara

yang sekarat di bantaran kali [1]

 

2020



DI STASIUN KOTA TUA

aku menunggumu seperti menunggu

kereta di stasiun. tapi kota ini seakan
menyembunyikanmu di belakang
gaung gedung-gedung itu.

kebisingan ini membuatku kehilangan

pendengaran dan kerumunan menutupi

penglihatan.


aku seperti kursi tunggu di pojok peron
terasing di antara orang-orang yang silih berganti
mencampakkan dirinya di bahuku

 

sekelompok pengamen menyanyi

dalam nada yang selalu gagal

menyembunyikan nasib buruknya

yang mengharu biru seperti bunga-bunga mati

berjatuhan dari cabang-cabangnya.

 

apa yang kita kenang dari patung kuno di bundaran

adalah gelombang mimpi yang datang dari masa silam

mimpi yang terhenti di ujung jari telunjuknya

yang gagal menjinakkan pergerakan cuaca.

 

kemana perginya tukang nujum tua itu

yang kartu-kartunya selalu luput

membaca tanda-tanda zaman?

 

di belakang meja seorang penulis monografi

menyaksikan arah masa depan disesatkan

di jalan-jalan kota ini. sementara orang-orang hilir-mudik

menyembunyikan belati di pinggang
menunggu waktu menodongku dari punggung.

menunggumu di kota ini membuatku sepenuhnya asing

seolah-olah sayap burung gereja tak memiliki mata

tersangkut di lorong sebuah gedung. dan engkau bagai kereta tua

tertelan oleh relnya sendiri, meninggalkan bayangan melengkung

membentuk isyarat berat di bahuku yang beku

 

2020 

 

BAYANGKAN JAKARTA

 

Bayangkan sebuah kota

Orang-orang bergerak dari ujung ke ujung

Menghubungkan setiap inci jalan dan lorong

Selalu sangsi pada semua penanda: berapa tikungan lagi

untuk sampai di akhir mimpi semalam?

 

Bayangkan sebuah kota asing

Jalan-jalan dijajah asap, pepohonan tumbuh

dari erangan, dan senja terusir ke puncak tertinggi gedung

Sungai mati berkeliaran sepanjang hari

menebarkan benih mimpi buruknya sendiri

 

Bayangkan kota ini menjelma pada etalase

Taman, matahari, dan jalanan terperangkap di kotak kaca

Roh-roh tertiup ke balik pakaian warna-warni

Menyapa tanpa tubuh dan kepala

 

Bayangkan kau berdiri di trotoar itu

Menyaksikan mata-mata kesedihan dan kesepian

turun di jalan-jalan. Langit dimakamkan di bawah kerumunan

Orang-orang terus bergerak menggelombang

menghubungkan tubuh-tubuh mereka

yang menjadi batu

 

Bayangkan para pejalan kaki serentak berhenti

di tempat penyeberangan

Saling tatap dengan kebisuan dan kekosongan

masing-masing. Lalu di ujung waktu

kau temukan dirimu tergeletak di atas ambulans

yang hilang di lorong tak berujung

 

Lalu bayangkan ini waktunya

bagi segala kekalahan dan kemenanganmu

dirayakan dengan karangan bunga

dan diperingati dengan doa yang sama

Dan bayangkan di batu nisan itu

namamu diukir untuk menyatakan pada akhirnya

kita adalah batu yang bernama

 

2019

 


[1] Nyoman Sukaya Sukawati, lahir 9 Februari 1961. Mulai aktif menulis puisi sejak 1980 di rubrik sastra surat kabar Bali Post Minggu asuhan Umbu Landu Paranggi. Sajak-sajaknya dimuat pada buku kumpulan puisi bersama, antara lain Saron (2018) dan Tutur Batur (2019). Dia pernah bergiat di dunia jurnalistik sebagai wartawan di sejumlah surat kabar dan televisi. Pada 2007 bukunya berjudul Mencari Surga di Bom Bali diterbitkan melalui program Widya Pataka Badan Perpustakaan Daerah Provinsi Bali bekerja sama dengan Arti Foundation, Denpasar. 

 


Galeri Buku Jakarta

GALERI BUKU JAKARTA

Ex sunt numquam aperiam voluptates aliquid ut consequatur. Quia consequuntur dolor deserunt consequatur quia incidunt. Non nihil voluptate exercitationem error quibusdam. Quisquam dignissimos quis architecto adipisci. Rerum nihil animi nihil officiis eius quia molestias.