Robert Lowell: Beban Berat Sebelum Melahirkan Puisi
Sajak yang siap untuk kau tulis tidak berhubungan dengan hal yang sangat kau cemaskan atau yang ingin sekali kau katakan.
BY MARLINA SOPIANA
Sedikit
pemandangan atau sesuatu yang kau rasakan. Hampir semua masalah dalam menulis
puisi adalah bagaimana membawanya kembali pada apa yang kau rasakan, dan itu
membutuhkan banyak sekali manuver.[1]
Kau mungkin
merasakan gagang pintu yang lebih kuat daripada sejumlah peristiwa besar dalam
hidupmu, dan gagang pintu itu akan membuka pada sesuatu yang dapat kau gunakan
sebagai milikmu sendiri. Sejumlah besar puisi kurasa sangat bagus dalam
tradisinya tetapi tidak begitu menyentuh bagiku karena ia tidak memiliki
semangat personal padanya. [2]
Aku mungkin
membesar-besarkan nilainya, tapi itu berharga bagiku. Sejumlah gambaran kecil,
beberapa rincian yang kau kenali-kau sedang menulis tentang sebuah toko kecil
di pedesaan, hanya mendeskripsikan saja, dan sajakmu berakhir dengan sebuah
catatan eksistensial tentang pengalamanmu. Akan tetapi, toko itu yang
memulainya.
Kau tidak
mengerti kenapa itu sangat berarti bagimu. Seringkali gambar-gambar dan
seringkali suasana di awal dan di akhir sebuah sajaklah satu-satunya yang kau
miliki-semacam perjalanan melalui hal-hal tersebut: kau tahu itu, tapi kau
tidak mengetahui rinciannya. Dan hal itu mengagumkan; dan kau merasakan sajaknya
akan muncul. Itu merupakan perjuangan yang mengerikan, karena apa yang
sesungguhnya kau rasakan belum mempunyai bentuk, itu bukan hal yang dapat kau
masukkan ke dalam sebuah sajak. Dan sajak yang siap untuk kau tulis tidak
berhubungan dengan hal yang sangat kau cemaskan atau yang ingin sekali kau
katakan. Lalu momen besar itu datang saat terdapat cukup resolusi dari
peralatan teknismu, caramu mengkonstruksi sesuatu, dan apa yang bisa kau
jadikan sajak, agar mengenai apa yang sesungguhnya ingin kau katakan. Kau
mungkin tidak sadar memiliki hal itu.
[1] Letter form the Editor: Majalah The Paris Review (2018) secara ekslusif menerbitkan The Writer’s Chapbook, sebuah jilid buku yang berisi intisari-intisari dari rentetan wawancara dengan pengarang-pengarang yang muncul di majalah tersebut sejak tahun 1953. Apa yang ditulis kemudian adalah diskusi-diskusi para pengarang tentang proses awal dari dunia kreatif dan menulis mereka, pengecambahan sebuah puisi, atau sebuah karya fiksi. “Inspirasi” menjadi garis besar dalam rangkuman dari intisari pemikiran para pengarang dunia tentang proses kreatif dan bagaimana mereka menulis pada mulanya. Galeri Buku Jakarta memuat lebih utuh Inspirasi pengarang dunia ini dalam buku “Memikirkan Kata” (2019)
[2] Robert
Traill Spence Lowell IV adalah seorang penyair Amerika. Ia lahir dalam keluarga
Boston Brahmin yang asal-usulnya dapat ditelusuri kembali ke kapal Mayflower.
Leluhur dan keluarga sezamannya merupakan subjek penting dalam puisinya.
Neque laborum est voluptas nihil nesciunt voluptas. Officia nisi quia dolorem nisi praesentium ut debitis. Repellendus deleniti in quia at eveniet dolorem sequi eius.